Posted by: Bernardia Vitri on: Oktober 29, 2009
Yogyakarta, 12 Oktober 2009
Kepada
Dewan Rakyat terhormat,
Salam jumpa di surat ini,
Perkenalkan, saya Bernardia Vitri Arumsari, seorang anak SMP yang mencoba mengkritisi Indonesia lewat surat ini. Pengetahuan saya memang tak seberapa, tetapi tidak ada alasan untuk tidak berani menulis sesuatu tentang Indonesia dari balik kacamata saya. Sebelumnya, terimakasih anda mau meluangkan waktu untuk membaca surat ini.
Nasionalisme, tentang ke-Indonesiaan 100%. Saya berpikir, apa yang anda- Para Dewan Rakyat pikirkan tentang kalimat tersebut.
Sebagai wakil rakyat di negeri tercinta, tentu ada kewajiban tersendiri untuk menampung aspirasi rakyat yang nantinya diolah agar menjadikan negara lebih baik. Hukum penampungan aspirasi rakyat, apakah hanya berlaku untuk sebagian dan sisanya menjadi perwakilan rakyat KKN seperti yang digambarkan karikatur koran selama ini?
Indonesia yang pertama, Indonesia yang orang-orangnya adalah koruptor, dengan total tahanan kasus korupsi berapa persen? Tidak sampai satu persen! Itukah budaya kita? Budaya tikus got mencuri makanan? Sebagian dari anda, saya yakin masih berpegang pada iman yang kuat. Saya yakin masih ada satu dua yang tak mau melakukan KKN, dan semoga, itu bukanlah sekedar keyakinan anak bangsa saja.
Indonesia yang kedua, Indonesianya yang korup. Lihat saja Pak, dan Bu Dewan! Selama ini perundangan yang disahkan hanya menjadi peraturan bodoh. Dari kacamata saya, belum ada pemimpin yang secara tegas menertibkan mereka yang melanggar. Percuma rapat paripurna yang ditujukan untuk menghasilkan UU baru. Tidak perlu undang-undang kalau kita semua bisa tertib. Apa wakil rakyat sudah tertib? Uang tanda tangan kehadiran, uang makan-minum rapat, serta uang listrik. Semuanya terbuang percuma hanya untuk penciptaan lembaran kertas berjudul Undang – Undang. Ada ungkapan seperti ini: Negara yang memiliki banyak UU adalah negara yang korup. Pertanyaan saya, itukah Indonesia? Negara yang korup-kah? Banyak undang-undang, tak ada bukti konkret pemberantasan pelanggaran.
Dengan membaca yang di atas, jangan mengira saya hanya melihat kinerja anda dari sisi negatif. Saya masih melihat sisi positifnya. Saya tahu kerja anda juga sulit. Memilih solusi yang paling tangguh untuk pemecahan aspirasi rakyat. Dilema antara resiko pilihan satu dengan pilihan lainnya. Yang satu resiko besar tetapi hanya sedikit, yang lain resiko kecil tetapi banyak sekali. Dilema. Itu pula belum tambahan caci maki rakyat yang menuntut aspirasinya dikabulkan secepatnya.
Kembali lagi, ke-Indonesiaan 100%. Saya seringkali berpikir. Apakah anda- Para Dewan yang memiliki beban kemajuan bangsa sudah memiliki jiwa Indonesia 100%? Cermin dewan rakyat di mata masyarakat kali ini, anda kah teladan yang benar-benar sang tauladan? Jika ditilik dari kesehariannya, anda menggunakan barang-barang impor misalnya. Sepatu merek impor, tas merek impor, sampai keperluan kecilpun juga impor. Mungkin mobil dan motor adalah perkecualian, tetapi adakah mobil dinas yang kelihatan jadul? Wakil rakyat kita bangsa apa? Bangsa modern yang konsumerisme!
Ya, bangsa konsumerisme, itulah kita. Penduduk Indonesia serakah, apapun dilahap. Selalu mengikuti trend pasar yang ada. Apakah definisi kata modern hanya terpaut pada permainan produk-produk baru yang terus bermunculan dari sang importir? Indonesia ini seakan sudah kehilangan nenek moyangnya. Kebudayaan sendiri sudah menjadi sesuatu yang kuno, tidak nge-trend, tidak modern. Beruntunglah batik kita sudah diresmikan oleh UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia. Satu budaya yang terancam punah sudah ada di tangan kembali. Bukan semoga, tetapi harus tetap lestari.
Ketiga, Indonesia kurang ada penghargaan terhadap sejarahnya. Para pahlawan, pendahulu yang rela mati dilupakan begitu saja. Usaha para pendahulu yang menginginkan produk Indonesia merajai negerinya sendiri telah hilang di antah-berantah. Semua itu tergantikan oleh produk luar, pola pikir kami, kaum muda penerus bangsa pun hanya terpaut pada genggaman iklan sang makelar.
Kini tinggalah sang wakil rakyat. Anda, bersama kami, diharapkan oleh setiap anak bangsa Indonesia untuk membawa perubahan yang berarti. Tidak harus dengan menjalankan program-program subsidi, mulailah dengan menciptakan contoh yang baik di mata masyarakat. Tinggalkan arena pertarungan fisik di gedung DPR. Jadikanlah segala perilaku anda pantas untuk dihormati sehingga rakyat akan selalu menghargai setiap hasil usaha anda. Kami menunggu di sini.
Ya, diwakili dengan surat ini, kami, para anak bangsa yang menanti masa depan dengan hati yang berdegup memohon kepada anda sekalian agar anda mau menjadi wakil rakyat yang pantas kami cintai dan hormati.
Terimakasih sekali lagi jika anda berkenan membaca surat yang kurang sempurna ini hingga titik koma terakhir.
Tertanda,
Bernardia Vitri Arumsari
Ini adalah surat saya yang tidak menang dalam lomba. Saya menulis memang bukan untuk memenangkan lomba, tetapi karena saya ingin menyuarakan apa yang ada dalam pikiran saya tentang apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan. Saya tahu karya ini tidak akan menang. Apa arti kekalahan dan kemenangan sesungguhnya? Bahkan realitapun terpinggirkan untuk alasan cinta negeri. Sedangkan nilai-nilai yang selama ini diajarkan PKN, hanyalah sebuah asa untuk terus menghargai negara. Baik, saya mencintai negara ini, tetapi tidak orang-orangnya, dewan rakyat sekalipun.
Komentar telah ditutup
Oktober 27, 2009 pada 07:20
saya baca dan pahami dahulu ya
jawabku: ya..