Konstitusi? Bukankah itu tidak lebih dari kepercayaan pada kepalsuan? Pada awalnya, dia dibuat sebagai mandat rakyat untuk kebebasan. Tapi kenyataannya sekarang, konstitusi tidak lebih dari penjara ketidakadilan. Di balik jerujinya, kita hanya bisa menatap politik tanpa etika, kekayaan tanpa kerja keras, sains tanpa humanitas,peribadatan tanpa pengorbanan, perniagaan tanpa moralitas, pengetahuan tanpa karakter, dan kesenangan tanpa nurani ….”-Attar Malaka

Kau menjejakan kaki dengan keras saat keluar ruangan itu. Kau berjalan sambil menghentakkan kakimu. Kau marah. Kertas soal di tanganmu kau remas. Matamu menyala melotot. Tetapi pikirmu hanya bertanya, mengapa.

Kau sekarang menyesal, tetapi bukan itu yang kau tunjukkan. Kau ingin berteriak, namun kau masih memegang kendali. Nafasmu mulai surut, lama kau menghirup campuran oksigen, dan kini kemarahanmu berangsur mereda, meninggalkan sesosok mata kelabu, air wajah yang suram, dan bibir mengatup tanda kesebalanmu masih tertanam. Kau putuskan untuk bermarah-marah ria nanti.

Melupakan, sesuatu yang patut diberi acungan jempol saat itu kepadamu. Beralih ke sudut koridor, kau terduduk dan mulai membuka buku, lagi, seperti biasa. Tanpa berucap kata, kau mengabaikan temanmu yang cerewet bertanya.

Hingga akhirnya kau keluar kembali dari ruangan yang sama. Dengan gontai kau melangkah menuju gerbang. Matamu memandang jauh, melangkah tanpa roh.

Tujuan perjalanan pulang, rumah. Kau masih gontai dan lupa akan apapun yang kau lihat dan pikirkan selama perjalanan tadi. Hahaha! Kau tertawa demikian kerasnya, tak masalah. Hingga kau menemukan sebuah buku, UUD 1945.

Amandemen UUD 1945 dengan sampul jingga, kau lihat berada di atas kaca mejamu. Segera kau menghampirinya, sigap, hampir seperti kucing menerkam tikus. Nafasmu memburu, kau buka halaman pertama. Dan segera jantungmu berhenti berdetak. Satu detik, dua detik, dengan keheningan yang tiba-tiba. Kau masih hidup. Kemarahanmu buktinya. Segera kau banting buku itu. Berpuluh pasal didalamnya mengingatkanmu sesaat tentang perjuangan leluhur bangsa. Persetan!

Kau tidak berteriak marah, tidak menggeram, tidak pula menangis. Tanpa suara. Kau mengambil kembali buku yang tak lebih dari lima puluh lembar itu. Idemu memerintah untuk merobek halaman-halamannya. Tidak jadi. Segera ide lain muncul. Sekarang lembaran UUD itu ada di bawah sepatumu, menjadi saksi bisu sebuah bangsa dengan orang-orangnya yang bodoh. Kau injak-injak, hingga sama dengan warna duniamu saat itu, kelabu.

Kau biarkan sesaat Amandemen UUD 1945 itu menangis di bawah kakimu. Kertas soal dalam tasmu, yang sudah kau remas tak berbentuk kau lemparkan ke tempat sampah dekatmu. Begitu pula Amandemen UUD 1945 yang berada di bawah kakimu. Kau lemparkan ke tempat sampah. Tempat yang sungguh layak, pikirmu.

(2009)