Penulis mula-mula merumuskan perbandingan-perbandingan yang penulis lihat dari layar televisi 9 November malam. Tentu beberapa hal mencolok seperti tingginya Obama dan SBY, serta besar gemuknya Obama beserta Michelle dengan SBY dan Ani tidak diikutsertakan dalam rumusan tersebut. Rumusan tersebut kemudian tertuang pada blog saya di BlackInStreep’s Blog:
Perbandingan antara Obama dan SBY, mencerminkan Amerika|Indonesia?
1. Love the part when Obama’s speech, love him when he shook hands with the others who are not too important.
2. Love the part when U.S. Ambassador thanked the journalists who reported Obama.
3. He is not like SBY. SBY did not want to shake hands with people who are not important.
4. SBY even surprised when Obama shook hands with Megawati. (http://blackinstreep.blogspot.com)
Dalam bahasa Indonesia, kira-kira arti rumusan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Suka bagian saat Obama berbicara dan berjabat tangan dengan orang lain yang tidak terlalu penting di Istana Negara.
2. Suka bagian saat Dubes Amerika Serikat berterimakasih pada wartawan yang meliput Obama.
3. Obama tak seperti SBY. SBY tidak mau berjabat tangan dengan orang yang tidak terlalu penting.
4. SBY terkejut saat Obama menjabat tangan Megawati.
Rumusan tersebut, dalam bahasa inggris saya tuangkan di jejaring sosial Plurk. Oleh teman, rumusan nomor tiga ia komentari, “Pencitraan Obama memang lebih baik dari SBY. Obama dengan mudah mendapatkan popularitas. Caranya termasuk memberi perhatian lebih dengan menyalami orang.” Hal tersebut akhirnya membuat penulis merumuskan tulisan ini:Obama yang begitu ramah, dan disodori berderet orang untuk disalami di Istana Negara kemudian juga mengenalkan istrinya, Michelle. Penulis memperhatikan, pada saat SBY berjabat tangan dengan deretan rombongan Obama, SBY bahkan tidak mengenalkan istrinya, Ny. Ani pada rombongan SBY. Obama juga menyalami orang-orang yang mungkin tak termasuk daftar orang yang akan disalaminya. Sedangkan SBY tak mungkin menyalami orang yang tak termasuk daftar orang yang akan disalaminya. Terlihat pada kekagetan SBY saat Obama menjabat tangan Megawati seperti yang diberitakan di Okezone/Metro TV News. Hal tersebut menunjukkan bahwa SBY kurang memahami sesuatu yang disebut keramahan. Kekurangpahaman tersebut seperti menjadi cermin bagi orang Indonesia pada umumnya. Saat sesorang telah duduk di suatu jabatan yang penting, seseorang tersebut menjadi seakan lupa terhadap orang-orang yang telah rekasa membantunya untuk duduk di jabatannya tersebut. Cermin introspeksi diri tersebut menjadi teguran sendiri bagi Indonesia. Seperti yang ditayangkan oleh TV One pada 10 November malam. TV One mengulas teguran halus ini. Karena penulis hanya melihat sekilas tayangannya, penulis memberikan kelanjutan tentang teguran ini menurut pendapat pribadi penulis sendiri. Teguran yang halus itu kemudiaan akan mengingatkan kita akan ‘dimanakah Indonesia?
Indonesia yang terkenal ramah-ramah… Kalimat tersebut terasa non-sens dengan apa yang baru saja kita bahas. Dalam realita, orang Indonesia kurang dapat menempatkan diri tanpa membuat terasa rendahan. Artinya, orang Indonesia kurang tulus, tidak total dalam memberikan keramahan. Hal itu terlepas dari kemungkinan bakat akting Obama yang baik atau tidak. Begitulah yang penulis lihat dari realita yang dilakukan pejabat negara kita, maunya terlihat ramah padahal etika saja tidak ngerti sampai harus belajar ke Yunani. Menanggapi komentar teman saya tentang pencitraan Obama yang lebih mudah mendapatkan popularitas daripada pencitraan SBY dengan salah satu caranya bersalaman dengan orang dalam daftar tidak pentingpun, sudah jelas kan? Bahwa SBY kurang asor, kurang rendah hati untuk melakukan sesuatu dengan ketulusan total, seperti sebagian orang di Indonesia. Lagipula Obama ini adalah Kepala Negara Amerika Serikat, negara super power yang sudah barang tentu kepala negara super power tentu pula super power. SBY kan hanya memerintah negara berkembang, tentu pencitraannya jauh lebih besar Obama. DItambah lagi, metode pencitraan SBY dan Obama sungguh lain. Obama dengan ‘Trust, We Can!’ sedangkan SBY dengan mengeluh terus menerus. Psikotes tentu menunjukkan masyarakat akan cenderung memilih sesuatu yang berbau optimis dari pada yang pesimis.Sebenarnya, dengan mengeluh terus tersebut, SBY malah menjatuhkan pamor diri sendiri. Sungguh aneh presiden ini, hahaha. Nah, untuk menjadi hebat, kita memerlukan introspeksi diri yang besar. Pencitraan Obama yang menunjukkan keramahannya dengan berjabat tangan dengan siapapun juga menjadi wujud nyata bahwa dirinya secara sadar menghargai orang lain. Yang berarti introspeksi dirinya besar, yang mengakibatkan penghargaannya terhadap orang lain besar pula. Penghargaan terhadap orang lain ini pula ditujukan pada berbagai macam pandangan. Nah, waktu kunjungannnya ke Masjid Istiqlal di Indonesia, beliau telah menunjukkan sikap besar penghargaannya terhadap pandangan lain. Berarti benar apa yang dikatakan oleh sebuah partai bahwa SBY memerlukan lebih besarnya introspeksi diri daripada mengeluhkan sesuatu yang sebenarnya tak berguna apa bila dikeluhkan terus menerus. Penulis memiliki prasangka terhadap kunjungan Obama ke Indonesia mungkin untuk kunjungan bilateral, pencitraan pada negara-negara atas partai Demokratnya, atau mungkin pula untuk plesirannya dari kekalahan Demokrat dari Republik di parlemen Amerika Serikat. Karena hanya kemungkinan dan tidak diketahui pasti, penulis kira kita tak perlu memandang dari sudut kepartaiannya namun dari segi manfaatnya. Baik itu manfaat formalitas, yaitu hubungan bilateral AS dan RI yang semakin baik sehingga menguntungkan masing-masing negara. Atau manfaat yang non-formalitas seperti yang telah kita bahas di tulisan ini. Bukannya Indonesa memang memerlukan teguran halus ini untuk menjadi sadar? Marilah kita menanggapinya dengan terbuka dan positif untuk selalu belajar dari peristiwa apapun itu.
Maturnuwun. Terimakasih.
Bernardia Vitri Arumsari
baca juga:
http://blackinstreep.blogspot.com
http://nuclearenvirontalist.wordpress.com








Semoga SBY membaca blog ini, lalu beliau bisa memperbaiki kekurangannya. Menurutku lingkaran satu SBY juga arogan semua, termasuk anggota partainya. hehehe.
jawabku: haha, ya jika SBY sampai membaca blog ini berarti dia benar-benar ingin Fame
Mbaknya puinter buanget,tolong kupasanya tentang togel dong.Biar saya post di blog saya,biar saya keliatan kayak orang pinter.Maklum baru blajar ngeblog nih.Trims
jawabku: hah? togel? maksudnya apa itu?
Mbak,Kok spasi2 nya ndak diatur?susah mbaca nya…hehehe….
Peristiwa paling diingat : Salaman Tif, Bakso-Sate-Nasi Goreng-Emping, We Don’t want to be number 3-We Want be number 1,Sarinah, Mega hadir sebagai undangan dan duduk di samping Michel Obama,
jawabku: weh, iya to? sebentar saya edit dulu
Salam Hangat
setuju
jawabku: terimakasih
Halo Lyra, tulisanmu bagus dan lugas. Memang sebagian besar bangsa kita begitu. Contoh pada saat penjelang pilihan entah Presiden, Gubernur, DPR,Walikota Bupati, saat kampanye mengemis minta dukungan, tebar pesona, tebar senyum, obral janji, obral uang, setelah itu 180 derajat berubah, ya kira-kira seperti yang kamu gambarkan itu. Tapi saya yakin tidak semuat orang Indonesia begitu, memang kita harus berubah, orang muda harus berubah, tapi tidak perlu menjelek-jelekkan yang penguasa yang lalu, kita sendiri yang harus berubah total, tak perlu demonstrasi, karena yang dulupun demonstrasi setelah jadi orang yang begitu saja. Berubah, berubah, berubah keep in great spirit, keep in great tolerance, full of love and so on.
jawabku: setuju dengan komentar bapak, ‘Keep In Great Tolerance’ terimakasih sudah komentar